SMPN 18 DEPOK
SELAMAT DATANG DI WEBSITE SMP NEGERI18 DEPOK PDF Print E-mail
Tuesday, 12 August 2008 09:26

PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU SMP NEGERI 18 DEPOK

Tahap I

(Khusus untuk peserta yang tidak mampu dan ABK (Anak Berkebutuhan Khusus)    

Pendaftaran   :

  1. Tanggal 17 Juni s/d 20 Juni 2013,
  2. Pukul 08.00 – 12.00 WIB

Persyaratan    :

  • Khusus

-  Menyerahkan Foto copy dan asli Jamkesda/Jamkesmas, fotocopy KK dan KTP Kota Depok

  • Umum
    1. Formulir Pendaftaran
    2. Surat keterangan Lulus asli dari satuan pendidikan.

 

Pengumuman :

  1. Rabu, 26 Juni 2013

 

Daftar Ulang :

  1. Kamis, 27 Juni 2013 pukul 08.00 s.d 12.00
  2. Jum'at, 28 Juni 2013 pukul 08.00 s.d 11.00

 

Persyaratan Daftar Ulang :

  1. Surat pernyataan diterima
  2. Fotocopy SKHUN yang telah dilegalisir
  3. Fotocopy Ijazah yang telah dilegalisir
  4. Fotocopy Akte Kelahiran yang telah dilegalisir
  5. Fotocopy Kartu NISN

 

Catatan :

untuk peserta yang telah dinyatakan lulus namun tidak melakukan registrasi ulang pada waktu yang telah ditentukan maka akan dianggap Mengundurkan diri.

Tahap II

(Penerimaan Jalur Jurnal UASBN)

 

Pendaftaran :

  1. Tanggal 1 s.d 3 Juli 2012,
  2. Pukul 08.00 – 12.00 WIB

 

Persyaratan :

  • Menyerahkan :
  1. Formulir Pendaftaran
  2. Surat keterangan Lulus asli dari satuan pendidikan.
  3. SKHUN Asli

 

Pengumuman :

  1. 4 Juli 2013

 

Daftar Ulang :

  1. 5 s.d 6 Juli 2013 pukul 08.00 s.d. 12.00 WIB




Web ini di bangun guna memperkenalkan SMPN 18 Depok yang baru di buka operasional KBM angkatan pertama pada bulan Juli 2011

dengan adanya media website ini kami berharap dapat memperkenalkan SMPN 18 Depok dengan mudah kepada khalayak masyarakat khususnya masyarakat yang ada di kota Depok yang ingin menyekolahkan putra/i-nya di SMPN 18 Depok.

Selanjutnya website ini kami bungan agar menjadi web yang Inspiratif, Komunikatif, Ekspresif, rekreasif, apresiatif dan pastinya Edukatif.

 

SMP NEGERI 18 DEPOK

MENUJU SEKOLAH “BERKARAKTER” DEPOK

“Ketika kita menebar Persepsi, kita akan menuai Perbuatan.

Ketika kita menebar Perbuatan, kita akan menuai Kebiasaan

Ketika kita menebarKebiasaan, kita kan menuai Karakter

Ketika kita menebar Karakter, kita akan menuai Kejayaan” ( William M Thackeray)

Seorang ayah yang terbaring sakit karna batuk berkepanjangan terjaga dari tidurnya saat dua putrinya –kelas V SD- pulang dari sekolah, mereka mngucapkan salam dan sempat berkata “Ayah masih sakit ?” sambil berlalu menuju kamarnya, sang ayah sedikit terhibur namun itu tidak berlangsung lama karena itulah perhatian yang didaptkan untuk sehari itu. Sang ayah sempat tercenung antara kecewa dan menyesal. Kecewa karena berharap sang putri menemaninya disaaat mereka punya waktu selepas sekolah tapi tidak didapatkan, mereka sibuk dengan kegiatan mereka seperti membaca buku cerita kesangannya dan bermain dengan teman-temannya, menyesal karena menyadari sang putri bersikap demikian karena memang kurang ditumbuhkan rasa emphatinya terhadap sesama sehingga status sebagai ayahpun tidak cukup untuk mendapatkan perhatian. Dibalik sakitnya sang ayah bertekat untuk berbuat agar tidak ada lagi orang tua yang harus kecewa dan menyesali peran yang sudah dilakukannya selama ini terhadap putra putri mereka.

                 Emphaty sebagai salah satu karakter memang menjadi barang langka dinegeri ini, banyak sekali “tontonan ketidakbaikan” yang tersaji dari hari ke hari lewat media masssa dari seluruh level masyarakat, mereka seperti berlomba mempertontonkan “ketidak-baikan” . Sebut saja cerita satu kursi untuk anggota banggar yang berharga 24 juta ditengah ketidak pastian saudara-saudara kita dalam mendapatkan kepastian makanan untuk satu hari saja, maraknya impor kebutuhn pertanian disaat petani kita sedang panen, belum lagi ancaman disintegrasi bangsa serta revolusi sosial karena keberpihakkan negara lebih kepada pemilik modal dari pada memberikan jaminan kepastian tanah pertanian kepada penduduk pribumi.

Disaat yang sama Pendidikan sebagai benteng harapan masyarakat dalam mengembalikan budaya luhur bangsa ini seperti kehilangan kekuatan dalam menumbuhkembangkan karakter generasi penerus yang berada ditangannya, Usaha baik pemerintah dengan tunjangan sertifikasi ternyata tidak diimbangi peningkatan mutu tenaga pendidik, hampir 85 persen pendidik menganggap itu sebagai berkah saat mereka hadir dalam kenduri-nya Kementrian Pendidikan Nasional, sehingga setelah mereka terima lalu cepat-cepat dihabiskan karena takut Basi dengan harapan toh akan dapat lagi di kendurian yang akan datang. Lengkaplah sudah faktor-faktor kenapa karakter sebagai implementasinilai-nilai kebajikan tidak tumbuh dan berkembang pada generasi penerus bangsa ini, yakni Masyarakat kerap mempertontonkan ketidak baikan, pendidikan terlalu berorientasi pada hasil sehingga teaching to the tes mengikis habis nilai-nilai kebajikan sebagai hiden curriculum yang harus muncul bersamaan dengan peningkatan inteltual peserta didik, dan Pendidik salaku pelaksana terlalu nyaman dengan “kenyamanan” mereka sehingga strimulus Sertifikasi tidak berdampak signifikan terhadap kinerja mereka. Namun disaat keraguan menghantui tuk kita dapat meraih lagi keluhuran karakter bangsa yang semakin terserak karena terlepas atau sengaja dilepaskan, ada usaha sitematis yang tak mengenal lelah yang tetap berjalan. Sistematis karena dikawal denagn Inpres No. 1 2010 yang secara simultan diusung oleh banyak lembaga. Tak mengenal lelah karena seperti menggantang Asap ketika bicara karakter di level bawah, disaat yang sama petinggi-petinggi negeri mempertontonkan “karakter Ketidakbaikan” baik prilaku menyimpang, Korupsi, Ketidaktegasan dalam penegakkkan hukum sampai keberpihakkan kepada rakyat yang makin kurang, sampai-sampai sulit mencari tempat fasilitas tarnsportasi umum yang nyaman –sebagai indiktor pelayanan- Naik kereta dihantui Pencopet, Naik Angkot dihantui Pemerkosaan, Naik Busway dihantui Pelecehan, Jalan Kakipun dihantui Pengemudi yang nyabu.

Jika menyimak cita-cita luhur para Pendiri bangsa kita harusnya sadar membangun bangsa sebenarnya dapat dimulai dengan membangun sekolah. Sekolah tempat menumbuhkembangkan potensi generasi penerus secara paripurna yakni membangun Hati, Pikiran, Raga dan Karsa. Jika ada yang terabaikan maka taruhannya besar sekali karena menyangkut satu generasi. Pelaku-pelaku sejarah sekarang ini adalah produk pendidikan kita dimasa sebelumnya, Kepintaran mereka terbukti dengan banyak hasil kemajuan disegala bidang, kebugaran juga makin nampak di generasi kita yang makin baik begitu juga prakarsa yang melahirkan kreatifitas namun nilai-nilai kejujuran, emphaty, dan kemandirian bangsa terlihat stgnan bahkan mengalami kemerosotan tajam, banyak sekali terjadi pergeseran-pergeseran nilai yang makin menjauhkan kita akan keluhuran akar budaya kita yang sempat dikagumi bangsa lain sebagai “Bangsa Timur”

Generasi-genarasi terbaik harus kita ciptakan dengan sistematis dan Sekolah-sekolah harus kembali mengambil perannya. Karena terbukti bangsa yang membelanjakan sebagian besar untuk peningkatan pendidikan masyarakatnya akan mampu mengantarkan warga kepada taraf kesejahteraan yang dicita-citakan. Masih banyak nilai nilai budaya yang dapat kita munculkan kembali terutama terkait nilai-nilai Religius yang cukup effektif dalam menumbuhkan kejujuran , emphati dan kemandirian bangsa. Meski beragam tapi nilai utama sama, sebagai contoh Kota Bukit Tinggi mengenal sekolah berbasis Surau, Kalimantan selatan memiliki Perda tentang kewajiban membaca Alqur’an, Kota depok memiliki juga Perda membaca Al-Qur’an di Kabupaten Muaro Jambi setiap Jum’at para siswa terbiasadengan kegiatan Yasinan . Contoh kecil itu menunjukkan masih banyak yang peduli terhadap nilai-nilai keshalehan yang harus ditumbuhkembangkan pada putra-putri mereka. Secara Nasional Puskurbuk telah, sedang dan akan mempersiapkan sekolah-sekolah Rintisan yang tidak saja berperan sebagai Pusat peningkatan Intelektual tetapi juga ingin kembali merangkai Nilai-nilai karakter Bangsa menjadi sikap-sikap keseharian siswa. Program yang dilakukan secara silmultan dari satuan pendidikan terkecil sampai ke satuan pendidikan menengah, yang pada saatnya nilai-nilai karakter kembali muncul , terjaga dan diaplikasikan secara berkesinambungan dari peserta didik TK, SD, SMP sampai ke SMU atau SMK bahkan terhadap peserta didik yang menempuh pendidikan di SLB atau Pendidikan Non Formal / PKBM.

Depok sebagai kota yang berbatasan langsung dengan Ibu kota Negara, dimana penduduknya merupakan pekerja yang mengisi kesibukan Jakarta setiap harinya, sangat Potensial dalam membangun penduduk yang berkarakter. Betapa Indah jika pekerja-pekerja dari depok membawa “Karakter” yang membuat Ibu Kota lebih beradap dengan rasa Emphati yang tinggi, tidak ada lagi sikap Lu dan Guwe. Sebagai Cyber City Depok mempunyai keunggulan dalam pemanfaatan IT sebagai budaya kerja, yang pada saat yang sama dapat berperan sebagai Kota Pendidikan dalam menumbuhkembangkan kembali nilai-nilai karakter bangsa yang mulai terlupakan. Menjawab tantangan tersebut telah menggugah kami –sebagian para pendidik- untuk berperan aktif dalam mempersiapkan “Sekolah Berkarakter” . Peran IT sangat effektif dalam penyebarluasan program yang dilakukan namun dapat pula menjadi alat penyebarluasan ketidak baikan yang terjadi. Adalah SMP Negeri 18 Depok, salah satu sekoah baru yang mulai beroperasi bulan Juli 2011 kemarin yang mencoba untuk membentuk dirinya menjadi sekolah negeri berkarakter, yang coba menumbuhkembangkan Potensi peserta didik dengan keseimbangan antar pengolahan Pikir, Hati, Raga dan Karsa . Usaha yang didasari banyaknya sekolah swasta berbasis Akhlaqul Karimah dikota Depok, namun belum ada sekolah negeri yang berani mencanangkan dirinya Sekolah berkarakter. Posisi sekolah negeri sebenarnya sangat strategis mengingat keberadaannya seharusnya sangat dekat dengan Program-program Pemda seperti Melakukan kebaikan dengan tangan kanan, Program Jam belajar masyarakat dan Usaha membaca Alqur’an 15 menit sebelum KBM berlangsung seperti yang diamanantkan dengan Perda No 8 Tahun 2010.

Dengan Potensi daya dukung dari Pemerintah daerah dan Ketersediaan kesempatan membentuk Sekolah berkarakter pada sekolah baru melalui budaya sekolah berkarakter , disaat itulah kami bertekat mewujudkan SMP Negeri 18 Sekolah Berkarakter dengan Budaya Sekolah yang telah disepakati : SEKOLAH KELUARGA BAGI GENERASI UNGGUL BERAKHLAQUL KARIMAH. Kata-kata Sekolah Keluarga sengaja kami pilih dengan maksud Seluruh warga sekolah merasa ada dikeluarga sehingga perasaan Nyaman, bebas melakukan apapun sepanjang hasil kesepakatan, selalu berbagi dan mengatasi masalah yang ada bersama-sama dan yang terpenting bersama-sama dalam mencapai cita-cita kehidupan yang baik –Khusnul Khotimah-

 

 BUDAYA SMPN 18 DEPOK

A.Latar Belakang

 

Dalam kehidupan suatu Institusi tidak terlepas dari ikatan budaya yang diciptakan. Ikatan Budaya tercipta oleh seluruh warga institusi yang bersangkutan, dalam hal ini karena Institusi itu adalah Sekolah –SMPN 18 Depok- maka diharapkan budaya itu tercipta dari seluruh warga sekolah, Orang tua Peserta didik, Masyarakat dan Bangsa. Budaya yang membedakan Institusi yang satu dengan yang lain dalam cara berinteraksi dan bertindak meyelesaikan suatu pekerjaan. Budaya mengikat anggota institusi menjadi satu kesatuan pandangan yang menciptakan keseragaman berperilaku atau bertindak. Budaya sekolah merupakan sistem nilai sekolah dan akan mempengaruhi cara pekerjaan dilakukan dan cara cara warga sekolah berperilaku dalam sistem nilai sekolah yang dianut oleh seluruh warga sekolah, yang kemudian mempengaruhi cara bekerja dan berperilaku dari seluruh warga sekolah. Seiring bergulirnya waktu, budaya pasti terbentuk dalam sekolah dan dapat pula dirasakan manfaatnya dalam memberi kontribusi bagi efektivitas organisasi sekolah secara keseluruhan

 

SMP Negeri 18 Depok –sebagai institusi pendidikan formal di Kota Depok- untuk menuju Tujuan Sekolah yang dicita-citakan perlu mengadakan perencanaan dalam menuju perubahan baik dari segi infrastruktur maupun pelayanannya. Sejak awal berdiri pada awal Juli 2011 seluruh komponen yang ada –Kepala sekolah, Pendidik, Komite sekolah, dan Masyarakat sekitar- senantiasa menggali dan merusmuskan budaya yang akan dikukuhkan menjadi Budaya SMP Negeri 18 Depok, dengan tetap menghormati budaya yang telah ada dari lingkungan sekitar. Pertemuan tersebut menghasilkan enam kesepkatan, yakni :

          1. Kesepakatan Pertama : Nilai-nilai utama budaya dan perilaku utama yang akan diusung seluruh warga SMPN 18 Depok, dengan Motto :

 

“Sekolah Keluarga bagi Generasi Unggul berAkhlaqul Karimah”

          2.Kesepakatan Kedua, Penggalangan Komitmen Seluruh Warga SMPN 18 Depok

          3.Kesepakatan Ketiga, dukungan Keberhasilan Perujudan Budaya SMPN 18 Depok dari pihak terkait –Disdik, Kominfo, Masyarakat

          4.Kesepakatan Keempat, membangun awarenes dan Pemahaman mengenai nilai-nilai budaya dan perilaku utama SMPN 18 Depok melalui berbgai media Komunikasi,                          Workshop/Forum forum sharing

          5.Kesepakatan Kelima, membangun guiding team yang solid seperti Change agents dan TIB (Tim Implementasi Budaya

          6.Kesepakatan Keenam, Implementasi program budaya dan Tujuan Sekolah kedalam Dokumen sekolah, Mata Pelajaran, Pengembangan diri dan Budaya Sekolah

 

Demikianlah hal-hal yang melatar belakangi pentingnya Budaya SMPN 18 Depok sebagai sebuah Wahana bagi terujudnya pencapaian SMPN 18 Depok sebagai “Sekolah Berkarakter”

 

B.Nilai Budaya Dan Perilaku Utama SMPN 18 Depok

 

Nilai budaya kekeluargaan merupakan akar dari keseluruhan nilai-nilai budaya SMPN 18 Depok dan kan menjadi landasan utamadalam berkarya menuju tercapainya kualitas yang prima dalam pelayanan pendidikan berkarakter

 

SMPN 18 Depok telah mencanangkan visi untuk menjadi sekolah Unggul dalam IPTEK dan berakhlak mulia dengan menjunjung karakter Religius, Disiplin, dan Peduli Lingkungan, Sosial, serta Cinta Hidup Bersih dan Sehat” dalam mencapai Visi tersebut, telah ditetapkan misi yang harus dijalankan dengan tantangan dan strategis yang ingin dicapai , yaitu :

  • Melaksanakan pembelajaran PAIKEM dengan pengintegrasian nilai karakter, kewirausahaan dan ekonomi kreatif
  • Meningkatkan motivasi dan prestasi semua warga sekolah.
  • Memberikan bekal pengetahuan dan tekhnologi dengan keseimbangan nilai intelektual dan keshalehan bagi lulusan.
  • Melaksanakan penghayatan dan pengamalan terhadap nilai-nilai karakter Religius, Disiplin, dan Peduli Lingkungan, Sosial, serta Hidup Sehat dan Bersih.
  • Mengoptimalkan pelaksanaan 9 K, yakni: Kedisiplinan, kepedulian, Kejujuran, kebersihan, ketertiban, kesantunan ,kenyamanan, kerindangan, dan keasrian
  • Mengupayakan pemanfaatan waktu belajar, sumber daya fisik, dan manusia agar memberikan hasil yang terbaik bagi perkembangan peserta didik.
  • Menanamkan kepedulian sosial dan lingkungan, cinta damai, cinta tanah air, semangat kebangsaan, dan hidup demokratis.

Sementara itu, target KPI (Key Performance Indicators) 2015 adalah Terwujudnya Budaya Kekeluargaan dan berkinerja dengan indek budaya dan Indek Kinerja SMPN 18 Depok sebesar minimal 80%

 

C.    Makna Motto SMPN 18

“Sekolah Keluarga bagi Generasi Unggul berAkhlaqul Karimah”

 

Sekolah Keluarga :

 

Merupakan wujud dari nilai Budaya SMPN 18 –Kekeluargaan; Diharapkan seluruh warga sekolah merasa berada ditengah keluarga dimana ditemukan sikap saling menghormati yang tumbuh karena saling menghargai satu sama lain yang pada implementasinya diharapkan Pendidik dan Tenaga Kependidikan menyayangi para Peserta Didik dan Peserta didik menhgargai para Pendidik dan Tenaga kependidikan dan pada tataran sejawat Yang Tua menyayangi yang muda dan yang muda menghormati yang tua

 

Unggul :

 

Merupakan wujud dari Budaya SMPN 18 –Membuat Kesalahan Baru; Diharapkan seluruh warga sekolah senantiasa mau belajar yang ditunjukkan dengan selalu mencoba Hal-hal baru sehingga mengalami kesalahan dan memperbaikinya yang pada akhirnya mencapai keunggulan dalam segala aspek –Pikir, Hati, Raga dan Karsa-

 

Berakhlaqul Karimah:

 

Merupakan wujud dari Budaya SMPN 18 Berkarakter: Diharapkan seluruh warga sekolah mempunyai karakter yang tidak saja ada pada tataran pemahaman, namun juga pada tataran aplikasi , sehingga menjadi manusia yang senantiasa menjaga keshalehan diri, dalam arti bukan saja baik untuk dirinya juga membawa kebaikan pada lingkungan sekitarnya dimanapun mereka berada

 

Ketiga budaya dasar SMPN 18 Depok tersebut diharapkan menyatu kedalam setiap diri warga SMPN 18 Depok dan muncul menjadi Komitmen SMPN 18 Depok, yaitu : “Keunggulan Prestasi dan Akhlaqul Karimah Peserta didik adalah Tujuan Kami”

Salam Hangat,
a.n.Keluarga Besar

Kepala Sekolah
SMP Negeri 18 Depok

SRI JURYANI, S.Pd

NIP.196304211984122005

 

Last Updated on Friday, 28 June 2013 15:43
 

Polls

Bagaimana Web SMPN 18 depok
 

Who's Online

We have 1 guest online
  • lomba
  • observasi wortel
  • lomba
Previous Next